Profesi guru
Oleh : Marice Maria Sitanggang
Dunia pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini cukup menggairahkan.
Lepas dari kontroversi atas keberadaan sekolah
bertaraf “internasional” yang tidak memihak kaum lemah, hadirnya
sekolah-sekolah sejenis ini telah merangsang banyak orang untuk
memberi perhatian kembali terhadap dunia pendidikan kita. Profesi
guru yang dulu bukan merupakan pilihan yang populer, mulai dilirik
oleh beberapa anak muda sebagai profesi. Nah, tulisan ini saya
tujukan untuk anak-anak muda yang berencana menjadi seorang guru.
Mengenal lebih jauh tentang profesi guru sehingga anda memiliki
gambaran. Penjelasan yang singkat ini jauh dari lengkap, namun saya
berharap dengan membaca tulisan ini anda dapat memetakan posisi anda,
sehingga dapat membantu anda membuat keputusan apakah memilih menjadi
seorang guru atau tidak.
Persoalan pertama yang diajukan oleh seorang calon pekerja adalah
tentang penghasilan. Dahulu, hidup guru banyak yang tidak sejahtera
jika ia tak memiliki pekerjaan sampingan. Namun, sekarang, jika anda
seorang guru yang berkualitas, anda tak perlu risau soal penghasilan.
Saat ini banyak sekolah internasional atau national plus yang
membayar guru dengan nilai yang memuaskan. Rata-rata sekolah national
plus memberi gaji sekitar 4 – 8 juta rupiah kepada guru lokal.
Sekolah internasional bahkan berani membayar hingga 15-20 juta rupiah
sebulannya. Jika anda memiliki leadership, bukan tidak mungkin anda
memiliki kesempatan menjadi seorang Principal, yang tentunya memiliki
penghasilan lebih tinggi, atau mungkin mendirikan sekolah sendiri?
Who knows…
Sebelum menilik keahlian apa saja yang harus anda miliki jika menjadi
seorang guru, marilah kita lihat keuntungan apa saja yang anda
dapatkan jika berprofesi sebagai guru. Pertama, memiliki banyak
libur. Selain hari libur nasional, anda juga akan berlibur jika
liburan sekolah: Libur hari raya keagamaan, Libur Mid Semester, libur
Semester, Off hari Sabtu. Bandingkan dengan pekerja 8 to 5, yang
hanya bisa berlibur kalau cutinya sudah disetujui. Kedua, memiliki
kesempatan yang sangat luas membangun jaringan/networking . Jika anda
berhasil membangun relasi yang baik dengan siswa, mantan siswa dan
orang tua, bukan tidak mungkin suatu hari mereka akan memberikan
kontribusi bagi kemajuan anda. Networking adalah aset yang patut
diperhitungkan jika suatu hari anda beralih profesi menjadi pebisnis.
Ketiga, kesempatan yang selalu terbuka untuk mengup-date ,up-grade
keahlian dan ilmu pengetahuan.
Bekerja sebagai guru pada dasarnya haruslah panggilan jiwa. Selain
menuntut banyak keahlian, menjadi guru haruslah seorang yang dewasa
secara emosional. Profesi anda menuntut anda sebagai panutan, karena
itu anda diharapkan mampu menjadi seorang yang sempurna. Paling tidak
anda harus sempurna di mata siswa. Fatal sekali, misalnya, jika
sampai di depan kelas anda menunjukkan bahwa anda tidak mampu
menjawab pertanyaan siswa. Siswa tidak akan dipercaya jika anda
terlihat bodoh. Jika anda melakukan kesalahan seperti itu, tak berapa
lama sesudahnya rasa hormat pada andapun akan sirna, kemudian anda
akan tidak mampu menguasai situasi, akhirnya tidak betah. Mampu tidak
mampu, anda harus tampil perfek. Sebab itu menjadi seorang guru, anda
harus benar-benar menguasai ilmu yang anda ajarkan. Kalau anda tidak
ahli, tidak menguasai, apalagi tidak mencintai, matematika, misalnya,
janganlah menjadi guru matematika. Anda berada di tempat yang salah
dan hanya akan membuat diri sendiri sengsara lahir batin.
Sejalan dengan sifat ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis,
pekerjaan anda menuntut anda untuk rajin meng-up date pengetahuan.
Terutama jika anda guru sains, anda sangat dituntut untuk mengikuti
perkembangan. Jangan sampai anda, misalnya, mengatakan bagian dari
atom ada tiga, sebab sekarang sudah empat. Jangan sampai anda
mengatakan pluto adalah planet terjauh, sebab sekarang status pluto
sudah berubah. Menjadi seorang guru haruslah seorang yang haus akan
informasi. Karena itu, seorang guru haruslah seorang yang rajin
membaca, rajin ikut diskusi, rajin ikut seminar, rajin browsing
internet. Kalau anda pemalas yang hanya mampu bercuap-cuap, janganlah
menjadi guru.
Seorang guru yang kompeten haruslah juga seorang yang kreatif. Anda
haruslah seorang perancang yang handal. Anda harus mampu merancang
lesson plan. Mengajar membutuhkan persiapan. Bukan hanya
mempersiapkan materi, juga strategi bagaimana mentransfer ilmu anda.
Anda harus mampu membaca daya serap siswa anda sehingga anda bisa
memutuskan pendekatan apa yang anda gunakan untuk menggiring siswa
anda dalam mempelajari sebuah topik. Sehebat-hebatnya anda dalam
menguasai satu bidang, jika tidak mampu merancang pendekatan yang
tepat, gagal lah anda menjadi guru. Jika anda mau mengajar tentang
keliling bujur sangkar misalya, baiknya siswa anda sudah memahami
topik garis sejajar. Garis sejajar memberi clue untuk menemukan
keliling sebuah bujur sangkar. Siswa akan bisa menemukan bahwa
keliling sebuah bujur sangkar adalah empat kali sisi dengan melihat
pada gambar dan mengetahui bahwa garis sejajar memiliki panjang sisi
yang sama. Karena itu seorang guru haruslah seorang yang peduli
dengan kurikulum. Jika anda seorang yang tidak peduli dengan sistem
yang harus terintegrasi, janganlah menjadi guru. Setelah anda paham
kurikulum pun, anda haruslah seorang yang kaya ide. Anda harus tahu
bagaimana menciptakan kelas yang dinamis. Kelas yang belajar, bukan
yang menghafal, menulis atau mendengarkan. Pendekatan yang anda
pilih, haruslah pendekatan yang bersifat progressif. Anda juga harus
kreatif dalam me-reward kesuksesan dan pencapaian siswa anda.
Misalnya, anda harus mampu merancang bagaimana mendisplay karya siswa
anda di sekolah supaya dibaca adik-adik kelasnya, atau mencoba
mengirimkannya ke media atau pameran,misalnya, sehingga siswa anda
akan semakin terpacu dalam meningkatkan kualitas dirinya.
Siswa biasanya mudah bosan kalau disuruh belajar. Apalagi kalau tidak
menarik. Karena itu janganlah memakai metode one way. Anda harus
mampu menyelenggarakan kelas yang interaktif. Sudah bukan zamannya
lagi mengajar dengan menerangkan saja, anda harus mampu merancang
diskusi, permainan, aktivitas fisik, yang mensupport transfer ilmu.
Menurut saya, discovering learning adalah metode terbaik untuk
mengajar. Siswa akan mudah mengingat pelajarannya jika ia menemukan
sendiri jawabannya. Tugas anda sebagai guru bukan memberi tahu, tapi
memberi guidance, memberi clue. Banyak guru yang tidak “sabar” dalam
mengajar dengan cepat-cepat memberitahukan jawaban atau langsung
mengajarkan sebuah topik. Guru yang kompeten adalah guru yang mampu
merangsang curiosity anak didiknya. Jadi, jika anda bukan orang yang
sabar, janganlah menjadi guru. Anda juga haruslah seorang yang
kreatif dalam menggunakan media pelajaran. Jangan hanya mengandalkan
buku, manfaatkanlah juga resources yang mendukung, seperti alat
peraga,internet, televisi, cd/dvd, software, alat permainan.
Bersabarlah dalam memilah-milah resources yang paling pas. Saat ini
banyak sekali software yang tersedia untuk mendukung proses belajar.
Pakailah, sebab software tersebut sudah dirancang sedemikian baiknya
dengan mempertimbangkan banyak aspek, mereka menciptakannya dari
hasil penelitian selama bertahun-tahun.
Jangan mengira kesuksesan anda menjadi guru hanya ditunjang oleh
performa anda dalam mengajar. Hanya ditentukan oleh kemampuan anda
dalam menguasai ilmu dan metode pendekatan. Seorang guru juga
haruslah seorang yang “good” in management. Guru yang kompeten adalah
seorang manajer yang baik. Memiliki leadership yang baik. Anda akan
gagal menjadi pengajar yang baik jika anda tidak berwibawa, jika anda
tidak mampu membuat siswa anda tunduk pada yang anda minta. Anda
tidak akan mampu mengajar jika anda tak mampu menguasai kelas.
Menarik perhatian , menangkapnya, dan menjaganya tetap fokus pada
planning yang anda rencanakan adalah keahlian yang harus dimiliki
guru. Respons anda pada setiap tindakan siswa akan menentukan apakah
anda menjadi guru yang disegani atau hanya akan menjadi guru yang
disepelekan siswanya. Siswa zaman sekarang adalah siswa yang sangat
smart, karena itu anda harus lebih smart. Konsistenlah dalam
bersikap. Jika anda memberi hukuman kepada siswa yang berlari-lari di
kelas, lakukanlah juga hal tersebut jika pada lain waktu siswa yang
lain melakukan hal serupa. Konsistensi adalah taruhan dalam
menciptakan kedispilinan. Jika anda tidak konsisten, kerusuhan lah
yang tercipta. Jangan memberikan hadiah coklat, misalnya, pada salah
satu siswa yang berhasil menebak puzzle anda, dan pada saat lain
tidak memberikannya lagi pada siswa lain yang berhasil menemukan
jawaban benar terhadap puzzle yang anda berikan. Sikap anda yang
tidak konsisten rentan terhadap kritik. Bersikaplah adil kepada semua
siswa, meskipun secara manusiawi kadang-kadang kita memiliki siswa
kesayangan dan siswa kebencian. Transparanlah dalam menentukan sistem
penilaian. Terbukalah tentang metode penilaian yang anda pakai. Siswa
bisa saja protes jika ia mendapat nilai 7, misalnya, padahal temannya
yang lain, yang kurang mampu, mendapatkan nilai 8 atau bahkan sama-
sama 7. Anda juga dituntut menjadi seorang yang memiliki kemampuan
administratif yang baik, sehingga anda bisa menunjukkan kertas ujian,
filing data, nilai kuis, tugas rumah, mempresentasikan semua bukti
pada siswa atau orang tua. Kita akan mampu memenangkan kritik jika
kita sanggup membeberkan semua fakta yang mendukung dan menunjukkan
bahwa kebenaran ada di pihak kita.
Guru juga haruslah seorang yang memiliki kemampuan diplomasi yang
baik. Orang tua biasanya cerewet, menuntut ini itu pada gurunya.
Kadang-kadang, tanpa babibu, langsung marah-marah pada guru. Perlu
anda ingat, saat ini, pendidikan di Indonesia cenderung memperlakukan
siswa sebagai seorang customer. Orang tua tidak mau rugi, apalagi ia
telah membayar uang sekolah begitu mahal. Sekalipun anda melakukan
kesalahan, anda masih bisa “selamat” jika anda pandai berdiplomasi.
Bersikaplah seperti seorang customer service yang tetap tenang
meskipun sudah dihujat pelanggannya. Lihatlah itu sebagai bagian dari
bisnis dimana kepuasan pelanggan sangatlah penting. Bagaimana cara
anda bernegosiasi akan sangat menentukan keberhasilan anda. Sikap
anda benar-benar menentukan. Karena itu, seorang guru haruslah
seorang yang mampu memanajemen emosinya sendiri dengan baik. Banyak
guru yang baik sekali dalam mengajar akhirnya berhenti karena
bermasalah dengan orang tua siswa. Seperti kata orang-orang di HRD
bahwa orang direkrut karena keahliannya, tapi sering diberhentikan
karena sikapnya. Jangan sampai ini terjadi pada anda. Menyedihkan. ..
Sikap adalah hal yang paling menentukan dalam kesuksesan anda sebagai
guru. Perlu anda ketahui, semua siswa, baik TK, SD, SMP, SMU, senang
mengetahui batas-batas seorang guru. Mereka akan terus mencoba
mendorong batas-batas itu, dan melihat bagaimana reaksi anda. Siswa
senang mengetes gurunya. Jika anda marah pada seorang siswa di kelas,
menghardiknya di kelas, menghukum, atau malah menunjukkan muka stres,
atau hampir menangis, lihatlah, berikutnya, siswa anda yang lain akan
mencoba hal lainnya. Mereka ingin tahu dimana batas anda. Bagaimana
reaksi anda terhadap sikap siswa sangat menentukan keberhasilan anda
sebagai seorang guru. Jika anda ingin membuat siswa ada dalam kendali
anda, bersikaplah konsisten. Buatlah aturan-aturan yang fair,
perkenalkan pada mereka, minta untuk diterima sebagai kesepakatan
bersama. Libatkan anak didik anda sebagai pembuat peraturan bersama,
dengan demikian mereka lebih bertanggungjawab sebab memiliki sense of
belong. Jika anda memberikan kesempatan kepada siswa anda untuk
mengambil inisiatif, menyerahkan beberapa tanggungjawab, mereka akan
sangat koperatif dalam membantu anda memegang kendali. Pendelegasian
tanggungjawab ini terutama bisa anda terapkan bila anda bertemu anak-
anak nakal yang mengganggu, jadikanlah mereka sahabat dengan
mendelegasikan beberapa tugas, memberinya tanggungjawab. Misalnya,
minta dia membantu anda merencanakan field trip, mengumpulkan PR,
membantu anda mempersiapkan bahan praktikum, dsb. Tanggungjawab
seperti ini akan meningkatkan harga diri mereka, dengan demikian
mereka tidak berniat membuat ulah yang destruktif lagi.
Hal paling mendasar yang perlu anda ingat bila bekerja sebagai guru
adalah bahwa anda bekerja dengan manusia. Kondisinya berbeda sekali
jika anda , misalnya, bekerja sebagai tenaga administratif yang
setiap hari memelototi benda mati seperti komputer, misalnya. Manusia
memiliki macam-macam karakter, dan anda dituntut menjadi orang yang
ahli dalam “memanajemen manusia”. Keahlian ini membutuhkan seni.
Namun, walaupun itu seni, tak perlu takut, sebab keahlian ini
ternyata bisa dipelajari dengan latihan.
Akan sangat bagus juga jika sebagai guru anda juga bekerja di bidang
yang anda ajarkan. Guru yang juga seorang praktisi, umumnya memiliki
kualitas yang bagus. Misalnya, sangat bagus jika anda mengajar
kreatif writing, jika anda juga bekerja sebagai penulis. Atau
misalnya, jika anda mengajar ekonomi, anda juga misalnya bekerja
sebagai staff marketing. Atau jika anda mengajar akuntansi anda juga
seorang auditor. Atau mengajar musik juga bekerja sebagai pencipta
lagu. Mengajar hukum juga bekerja sebagai pengacara. Mengajar design
grafis juga bekerja di perusahaan advertising. Mengajar biologi juga
bekerja sebagai dokter hewan, misalnya. Mengajar farmasi juga bekerja
sebagai apoteker.Dan sebagainya. Pengalaman anda sebagai praktisi,
akan membuat anda mampu menyajikan pelajaran yang down to earth. Anda
akan mampu membuat koneksi teori dan praktek. Dengan demikian,
pelajaran yang anda suguhkan adalah pelajaran yang menyenangkan,
bukan yang membuat frustrasi. Nilai plus lainnya, anda akan memiliki
sarana/tempat untuk praktek bagi siswa anda. Misalnya,jika anda
mengajar jurnalisme anda juga seorang redaktur pelaksana, anda bisa
mengajak siswa anda melakukan field trip ke redaksi tempat anda
bekerja. Buatlah tugas meliput, menulis, lalu jika tulisannya bagus
publikasikan, dan berikan uang honor. Belajar dengan cara seperti ini
sangat menarik bagi anak-anak.
Wah, setelah saya beberkan sedikit disini, nampaknya susah yah
menjadi guru. Jawabannya : iya, kalau anda berniat menjadi guru yang
berkualitas global. Kalau bercita-cita menjadi guru di sekolah
negeri, lebih baik tidak usah sebab gajinya tak bisa dibanggakan.
Anda tak akan tenang mengajar jika masih tidak ikhlas dengan
kompensasi keahlian (gaji) yang tidak layak. Kita akan konsentrasi
mengajar, pertama-tama, kalau kita sudah merasa “dihargai” dengan
salary yang layak. Seidealis-idealisnya anda untuk memberikan diri
pada dunia pendidikan, kalau anda merasa gajinya tak layak, lama-lama
anda pasti akan kehilangan semangat. Orang biasanya akan bersemangat
melakukan sesuatu kalau dia tahu apa keuntungannya melakukan itu.
Termasuk keuntungan finansial ( biasanya finansial adalah faktor
signifikan dalam membuat keputusan untuk melakukan sesuatu
).
“akuw ingin menjadi seorang guru…”
